Empat Belas Tahun Hubungan Cina-Jepang

Satu fenomena penting dalam hubungan Internasional modern dewasa ini adalah lahirnya kekuatan-kekuatan besar baru yang muncul di berbagai kawasan dunia. Keadaan ini telah mengakibatkan pergeseran dalam politik internasional yang sebelumnya terbagi dalam dua kutub kekuatan(bipolar) menjadi multipolar. Ciri-ciri tersebut adalah: 1) bankitnya Negara-negara Eropa Barat yang hancur akibat Perang Dunia II dan tumbuh menjadi kekuatan industri besar seperti Jerman Barat; 2) munculnya Jepang sebagai raksasa ekonomi dunia dengan kemajuan teknologi yang pesat dan luar biasa. 3) meningkatnya peranan negara-negar timur tengah dan kawasan Teluk Persia sebagai sumber penghasila minyak dan energi dunia; dan, 4) munculnya Republik Rakyat Cina(RRC) sebagai raksasa dunia baru yang kemudian menggeser tempat Taiwan di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Munculnya Jepang dan RRC di dunia umumnya dan Asia khususnya tidak dapat dipungkiri lagi. Hal ini menyusul dengan semakin memudarnya peranan Amaerika Serikat di Asia Pasifik pasca Perang Vietnam. Politik pembendungan AS terhadap Komunisme telah meceburkan AS dalam konfliknya dengan RRC pada 1 Oktober 1949 lahir menjadi Negara komunis dengan penduduk terbesar didunia. Akan tetapi, pecahnya monolitisme komunis dengan terjadinya konflik Cina-Soviet tahun 60-an telah membuat para pemikir AS meninjau kembali politiknya terhadap RRC. RRC yang sebelumnya sebagai musush dalam perang Korea 1950 kini diharapkan memainkan peranan penting bersama AS dalam menghadapi Uni Soviet sehingga US secara praktis akan menghadapi dua front yaitu Asia dan Eropa. Kebijakan AS ini kemudian direalisasikan dengan kunjungan Presiden Nixon ke Beijing bulan Februari 1972 untuk lebih meningkatkan saling pengertian antara AS-RRC, khususnya dalam menghadapi hegemoni US setelah berakhirnya Perang Vietnam dengna kekalalah AS. Beberapa pengamat Internasional melihat bahawa mundurnya peran AS mulai mengalihkan perhatiannya ke kawasan lain yang lebih penting dan strategis seperti Timur Tengah dan Teluk Persia. Disamping itu, strategi global AS yang menuntutnya berperan sebagai “Polisi dunia” telah dirasakan semakin berat sehingga dengan semakin meningkatnya perekonomian Jepang dan membaiknya hubungan AS-RRC, AS telah menyerahkan tanggung jawab keamanan di kawasan ini kepada Jepang. Hal ini terbukti dengna kuatnya desakan AS kepada Jepang untuk meningkatkan anggaran pertahanan di atas 1% GNP-nya.

Kunjungan Presiden Nixon ke Beijing yang menandai perbaikan hubungan kedua Negara telah memberi dampak positif pada hubungan Cina-Jepang yang selama 40 tahun dilanda permusuhan hebat. Hanya tujuh bulan setelah kunjungan Nixon pada 29 September 1972

Kepentingan Jepang RRC

Perubahn penting di RRC dengan terjadinya pergantian pimpinan kekuasaan dari golongan radikal revolusioner kepada golongan realis-pragmatis sesudah meninggalnya Mao yang kemudia disusul dengan tersingkirnya kelompok empat telah membuka satu lembaran baru di RRC. Lembaran baru itu adalah ditempuhnya modernisasi baik secara politik maupun ekonomi. Moderniasai ini mendorong RRC untuk membuka diri secara internasional dan ini telah menjadi suatu hal yang mau tidak mau harus ditempuh RRC. Kesempatan itulah yang menjadi alas an dasar bagi tindak lanjut komunike Shanghai 1972 dengan AS dan Jepang, Eropa Barat, dan Negara-negara non komunis lainnya. Dibidang ekonomi, dimana RRC masih merupakan Negara yang sedang berkembang, bantuan dana serta teknologi sangat dibutuhkan bagi kelangsungan program modernisasinya yang meliputi modernisasi bidang pertanian, industri, pertahanan, dan ilmu pengetahuan. Bagi Jepang, hal ini memberikan dorongan untuk berperanan lebih besar di RRC mengingat potensinya yang kuat dalam teknologi, industri, ilmu pengetahuan serta pembiayaan yang sangat dibutuhkan RRC. Di samping itu, bagi Jepang, RRC merupakan tempat untuk memperluas daerah pasar bagi barang-barang hasil industrinya.

Dalam masalah internasional, baik Jepang maupun RRC memiliki pandangan yang sams dalam menghadapi ancaman Uni Soviet. Konsentrasi pasukan Uni Soviet dalam jumlah besar belakangn ini tetap bahkan makin memperburuk konflik Cina-Soviet yang sudah berlangsung lebih dari dua dasawarsa. RRC mengjukan tiga syarat bagi pemulihan hubungany dengan Soviet yaitu penarikan pasukan Soviet dari perbatasannya deng Cina, penarikan tentara Vietnam dari Kamboja, dan penarikan mundur tentara Soviet dari Afghanistan. Di sisi lain hubungan Jepang-Uni Soviet masih diliputi awan mendung akibat sengketa kedua Negara atas empat pulau milik Jepang yang dianeksasi Soviet sejak PD II. Ketika PM Jepang Fukuda mengunjungi Mosko tahun 1977, Breznev berjanji akan mengembalikan empat pulau tersebut, namun ternyata kemudian Soviet sama sekali tidak pernah mengakui adanya pernyataan tersebut. Dalam Diplomatic Bluebook yang diterbitkan secara berkala setiap tahun oleh Kementerian Luar Negeri Jepang secara jelas menyebutkan baha Jepang akan terus menuntut haknya atas empat pulau yaitu: Hobomai, Shikotan, Etorofu dan Kunashiri yang disebut secara resmi dalam buku tersebut sebagai Norther Territories dan buku tersebut sampai edisi terakhirnya menyebutkan bahwa hubungan kedua Negara masih akan menghadap;I situasi sulit. Kesamaan persepsi ini walaupun secara strateis terlalu sulit dilaksanakan, namun mengingat keduanya semakin merasa sama dalam menghadapi ancaman Uni Soviet serta dengan semakin meningkatnya kehadiran Uni Soviet di kawasan Asia Pasifik akhir-akhir ini maka sepanjang saling pengertian dan saling kepercayaan di antara keduanya dapat dipertahankan dan ditingkatkan, tidak tertutup kemungkinan bagi terjadinya suatu kerja sama militer RRC – Jepang, minimal dengan cara masing-masing mengadakan peningkatan system dan peralatan pertahanannya.

Beberapa Catatan Kemajuan

Berpangkal dari kebutuhan Jepang sendiri untuk mendukung strategi keamanan menyeluruh yang membutuhkan bahan dasar dan bahan baker, bantuan pun segera mengalir ke RRC. Dalam “Persetujuan Perdamaian dan Persahabatan RRC – Jepang” tahun 1978, RRC menerima bantuan perlengkapan dan teknologi sebesar 20 milyar dolar AS untuk jangka waktu delapan tahun. Sejak dibukanya hubungan diplomatic tahun 1972 tersebut, telah dicatat beberapa kemajuan. Bantuan ekonomi Jepang lainnya adalah paket bantuan ekonomi 1979-1983 sebesar 300 milyar Yen yang ditandatangani pada kunjungan PM Suzuki ke Beijing tahun 1982 untuk prasarana jalan kereta api, pelabuhan dan pembangkit tenaga listrik. Bantuan kedua untuk tujuh tahun berikutnya disepakati dalam kunjunga PM Yasuhiro Nakasone ke RRC 23-26 Maret 1984 yaitu sebesar 460 milyar Yen. Selain itu, untuk tahun 1979-1983 RRC juga menerima bantuan pinjaman bank swasta Jepang sebesar 2 milyar dolar AS untuk pertambangan batubara dan minyak bumi. Jepang juga menyetujui untuk membantu dan membangun perlengkapan nuklir untuk pembangkit tenaga nuklir RRC yang pertama di Qingshan di bagian tengah Cina yang berkapasitas 300/000 kwh sebagai bagian dari rencana pembangunan 20 stasiun pemgangkit tenaga nuklir yang berkekuatan 10 juta kwh samapai tahun 2000. Beberapa proyek seperti pembangunan lading minyak di Bohai dan Laut Kuning, Jepang menyumbang 400 juta dolar AS dan pembangunan pabrik baja di Baoshan yang tertunda akibat peninjauan kembali ekonomi RRC diteruskan kembali dan Jepang menanamkan 3,4 milyar dolar AS yang sebagian berasal dari firma swasta Jepang.

Di bidang perdagangan dari volume perdagangan sebesar 1,1 milyar dolar AS pada tahun 1972 kemudian ini meningkat menjadi 10 milyar dolar AS pada tahun 1982 dan meningkat lagi sebesar 12,8 % pada tahun 1984. Ekspor RRC ke Jepang berjumlah 5.087 milyar dolar AS yang terdiri atas minyak bumi, batubara, tekstil, dan gandum, sedangkan impor dari Jepang bernilai 4.913 milyar dolar AS meliputi pupuk, mesin-mesin industri dan besi baja.

Ganjalan-ganjalan

Masalah yang tetap timbul dalam hubungan kedua bangsa berkulit kuning ini adalah persoalan buku sejarah. Masalah ini juga menyangkut hubungan Jepang dengan Negara-negara Asia lainnya, khususnya yang pernah mengalami pendudukan Jepang. Dengan Korea, misalnya, PM Yashuhiro Nakasone telah memecat Mendikbud Masayusi Fujio yang telah mengundang protes Korea atas ucapannya yang berikhwal apda pemutarbalikan sejaran pendudukan dan kekejaman Jepang atas Korea dalam PD II. Buku sejarah Jepang yang secara resmi disusun oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jepang untuk disajikan kepada para siswa Jepang telah diperhalus dengan meniadakan istilah”kekejaran”, “invasi” maupun “agresi”, dan memperhalus menjadi “gerak maju”. Pemecatan Fujio juga telah mengundang kritik RRC yang mepermasalhkan buku sejarah tersebut karena telah memperkecil arti serbuan Jepang ke Nanking pada tahun 1937 dan pembantaian kurang lebih 200.000 penduduk oleh bala tentara Jepang di kota itu saja. Pemerintah RRC menganggap buku sejarah tersebut telah melanggar dan menodai semangat Komunike 29 September 1972 dan pengelabuhan fakta itu telah menyinggung perasaan bangsa Cina dan merobek kembali luka lama, di samping hal itu akan membuka kembali kemungkinan bagi bangkitnya militerisme Jepang. Persoalan yang berlarut-larut ini pernah hamper saja membatalkan kunjungan PM Suzuki ke Cina tahun 1982, walau pada akhirnya pemerintah RRC hanya meminta agar Jepang meminta maaf pada bangsa Cina dan bertanggung jawab atas kejadian tersebut serta mau menyesali diri.

Kekhawatiran yang berpangkal dari masalah ini tidak selesai sampai disini karena sejak tahun 1981 Pemerintha Jepang terus menaikkan agnggaran pertahanannya. Kenaikan bulan September 1986 sebesar 6,3% sehingga berjumlah 0,993%(kurang dari 1% GNP) adalah rencana program pembangunan pertahanan 1983-1987 yang berjumlah 17 milyar dolar AS. Hal ini telah mendapatkan perhatian serius dari Negara-negara di sekitarnya, terutama yang termasuk dalam radius pertahanan laut Jepang yang berjarak 1.000 mil laut. Walaupun saat ini Jepang terus berusaha menekan isu buku sejarah tersebut dengan berjanji untuk mengubahnya, namun hal itu belum memuaskan Cina dan Negara-negara Asia lainnya.

Kesumpulan

Setelah 14 tahun, kini kedua Negara yang telah diamuk permusuhan selama 40 tahun tersebut bertaut kembali dalam kesejajaran derajat. Walaupun Cina dianggap lebih senior karena Cina merupakan asal sumber dan nenek moyang budaya Jepang namun dalam zaman baru ini Cina mau tidak mau harus mengakui superioritas Jepang, dalam bidang teknologi dan industri. Pertautan kedua bangsa yang menandai suatu kerja sama antara sumber daya manusia dan sumber daya alam raksasa dan kekuatan teknologi raksasa, tampaknya akan memberi satu perkembangan baru dalam dunia internasional di masa mendatang. Yang perlu diperhatikan adalah, apakah kerja sama tersebut akan melahirkan persaingan baru antara keduanya dalam perbutan pengaruh di Asia atau kerjsama itu akan melahirkan suatu kekuatan raksasa yang oleh beberapa kalangan dikenal dengan istilah “Aliasi Kuning”.

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s