Golput Vs Megawati

Mediaindo12 Juli 2008 00:01 WIB

MESKI tidak menggelegar, kadang kala pidato Megawati Soekarnoputri menyegarkan. Dia menemukan ucapan yang pas yang kemudian seperti virus merasuk menjadi milik publik.
Sebut saja beberapa contoh. Ketua Umum PDI Perjuangan itu menilai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lebih banyak tebar pesona daripada berbuat. Di saat lain Megawati mengatakan kinerja pemerintah dalam menangani kemiskinan seperti penari Poco-Poco. Maju satu langkah, mundur satu langkah. Kelihatan bergerak, kenyataan tetap di tempat.
Akan tetapi, pernyataan Megawati pada kampanye pilkada Maluku di Ambon awal Juli lalu membuat kita tersentak. Tersentak karena mantan presiden itu mengatakan orang-orang yang menjadi golput alias golongan putih alias tidak menggunakan hak pilih pada pilkada atau pemilu, semestinya tidak boleh menjadi warga negara Indonesia.
Alasannya, karena golput menghancurkan sistem dan tatanan demokrasi serta perundangan-undangan di negara ini. Mega mengimbau warga PDI Perjuangan tidak mengikuti ajakan sesat itu.
Golput ajakan sesat? Mencoblos di bilik suara pada waktu pilkada maupun pemilu adalah hak. Bukan kewajiban. Itu jelas-jelas diatur dalam peraturan perundang-undangan. Sebagai hak, boleh digunakan dan boleh juga tidak. Sebab, menggunakan hak adalah hak, tidak menggunakan hak adalah juga hak. Berbeda dengan kewajiban yang merupakan keharusan.
Golput harus dilihat dalam dua kategori. Yakni golput pasif atau golput teknis administratif dan golput aktif atau golput ideologis. Golput pasif adalah mereka yang tidak menggunakan hak pilih karena terkendala administrasi negara. Misalnya karena tidak terdaftar, tidak memiliki kartu suara, atau tidak menerima undangan ke tempat pemungutan suara. Mereka menjadi golput bukan karena kemauan sendiri, melainkan karena kesalahan negara.
Sebaliknya golput aktif adalah orang yang secara sadar tidak menggunakan hak pilih. Penyebabnya macam-macam. Ada yang tidak percaya kepada sang kandidat. Ada juga yang tidak percaya lagi kepada partai, siapa pun yang diusungnya. Bahkan ada yang tidak percaya kedua-duanya sehingga yang berkembang apatisme.
Apatisme politik kini mengental karena banyak elite politik menjadi tersangka. Mereka mengingkari mandat rakyat dan lebih rajin mengumpulkan harta dengan cara-cara gelap. Itulah mereka yang diringkus KPK.
Jika rakyat tahu yang dicalonkan itu adalah orang-orang yang akan menjerumuskan negara, mengapa harus memilih? Jika rakyat tahu track record buruk sang kandidat, mengapa harus memilih?
Tingginya tingkat golput menunjukkan adanya krisis kepercayaan kepada pemimpin. Karena itu, pemimpin pemerintahan dan elite partai politik seharusnya melakukan introspeksi.
Para pemimpin jangan terlalu mudah menuding kesalahan ke arah rakyat yang menjadi golput. Telunjuk seharusnya diarahkan ke dada sendiri.
Kita berharap pernyataan Megawati hanyalah keseleo lidah, bukan keseleo berpikir. Kita ingin mewanti-wanti, para pemimpin jangan terlampau sering keseleo lidah. Karena, keseleo lidah–apalagi keseleo berpikir–juga menjadi salah satu sebab rakyat memilih menjadi golput.
Jika pemimpin hanya menghamburkan retorika, slogan kosong, atau gemar menebar pesona, rakyat tidak tertarik menentukan pilihan.
Dengan demikian, golput menjadi pilihan yang cerdas.
Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s